buku dibawah bendera refolusi

buku di bawah revolusi adalah dokument penting milik president soekarno, yg memuat tentang faham hidup berprikebangsaan. jika ada dri temen_temen yg memiliki buku tsb bisa kirim artikelmu di akun ini, supaya dapat meningkat pemahaman kita tentang faham nasionalisme. dan dpt dibaca oleh temen kita yg ingin tahu tentang faham ir.soekarno

Advertisements

PANCASILA AKAR PERJUANGAN DIPLOMASI BUNG KARNO

 

foto-#07

Sesditjen IDP Kemlu, Diah Wulandari M. Rubianto berbincang-bincang dengan Inen Rusnan (Juru Foto KAA 1955)

 

BANDUNG, MUSEUM KAA – Dalam rangkaian Pameran 100 Foto Perjuangan Diplomasi Bung Karno (21-30 Juni 2013), sebuah talkshow bertajuk “Refleksi 112 Tahun Bung Karno: Membaca Pemikiran Bapak Bangsa” sukses digelar di Ruang Pamer Tetap Museum KAA Bandung pada hari Jumat, 21 Juni 2013. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sesditjen IDP Kemlu, Diah Wulandari M. Rubianto dan turut dihadiri pula oleh Direktur Infomed Kemlu, P.L.E Priatna dan Ketua PNI Marhaenis Jawa Barat, Ida Rakhmawati.

Sekitar dua ratus pengunjung memadati talkshow yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu Tito Zeni Asmarahadi (cucu angkat Ibu Inggit Garnasih), Alfathri Adlin (Direktur Utama Pustaka Matahari), dan Tobing, Jr. (Ketua Komunitas Film LayarKita).

“Refleksi 112 Tahun Bung Karno merupakan jembatan waktu yang menghubungkan kolektif memori anak negeri dengan pesan inspiratif perjuangan dari masa lalu”, demikian ujar Diah Wulandari M. Rubianto dalam pidato sambutannya.

Sementara itu, Kepala Museum KAA Thomas Ardian Siregar mengatakan bahwa talkshow dan pameran tersebut dapat menjadi faktor penarik sekaligus pendorong bagi generasi muda dalam meningkatkan pemahaman akan sejarah perjuangan diplomasi Indonesia.

Prosesi pembukaan talkshow diawali dengan penampilan Ferry Curtis yang mendendangkan dua buah lagu berjudul “Sahabat Cahaya” dan “Kepada Putra Sang Fajar”.

“Kepada Putra Sang Fajar saya dedikasikan untuk Bung Karno. Saya mengagumi sosoknya. Inspirasi lagu ini berasal dari buku karya Beliau, Di Bawah Bendera Revolusi”, ujar Ferry.

Dalam talkshow yang berlangsung seru sekitar tiga jam itu, Tito Zeni Asmarahadi menuturkan secara runtun kisah Ibu Inggit Garnasih di awal perjuangan Bung Karno dari Bandung hingga masa pembuangan di Ende, Flores.

“Ibu Inggit berpengaruh besar pada karakter kepemimpinan Bung Karno di masa depan”, ujar Tito.

Marhaenisme sebagai konsep perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dimatangkan di Ende. Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pilar utama Pancasila dan menjadi ruh perjuangan diplomasi Bung Karno, tambahnya.

Sementara itu, Alfathri Adlin melihat demokrasi yang terancam oleh rendahnya budaya literasi. Padahal, demokrasi yang matang bertumpu pada kemapanan literasi masyarakatnya.

“Mau tidak mau, hipotesa teori Historical Lobotomy terbukti. Ia secara perlahan telah mencerabut kolektif memori kita akan Demokrasi Pancasila dan mengarah pada bahaya “amnesia sejarah”, lanjutnya.

“Untuk membaca buah pikir para bapak bangsa, kita dituntut memahami kontekstual historisisme gagasan mereka. Demokrasi Pancasila menjadi azas perjuangan diplomasi Bung Karno”, tandas Alfahtri yang sehari-hari menggeluti kajian filsafat di Pustaka Matahari Bandung.

Di sisi lain, Tobing, Jr. menyoroti sosok Bung Karno yang selalu tampil humanis dan penuh percaya diri.

Menurutnya, karakter kepemimpinan itulah yang berpengaruh besar pada citra Bung Karno sebagai pemimpin kebangkitan rakyat Asia Afrika.

“Empat tokoh bapak bangsa, Soekarno, M. Hatta, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka adalah inspirasi abadi bagi perjuangan anak negeri ini,” ungkap Tobing.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang pegiat kajian filsafat Jefri Raditiyo, S.IP menanggapi dengan serius konsep internasionalisme pada sila ke-2 Pancasila.

“Konsep politik luar negeri bebas dan aktif Indonesia yang berujung pada KAA 1955 sebagai akar ideologi Gerakan Nonblok adalah penjelmaan jiwa internasionalisme Indonesia yang sebenarnya,” katanya.

Talkshow diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan oleh Sesditjen IDP Kemlu, Diah Wulandari M. Rubianto kepada Tito Zeni Asmarahadi, Alfathri Adlin, dan Tobing, Jr. serta Ferry Curtis.

Selanjutnya, para undangan bersama-sama meninjau Pameran 100 Foto Langka Perjuangan Diplomasi Bung Karno di Galeri I Museum KAA. (sppnkaa/dsa)

-Pikiran Tuhan-

“Belajar dengan Anaku” -Ketika Anakku Mengambil krayon dengan tangan mungilnya dan mulai menggambar seakan di perintah. Aku melihat dengan senang Tpi tak dpt meramal Garis~garis Sederhana ini akan Menjadi Apa nanti. Apa yg kau gambar? Aku bertanya akhirnya.. Aku sedang menggambar Tuhan Di angkasa. Tpi tak ada yg tahu rupa tuhan seperti apa, desahku.. Mereka akan tahu setelah aku selesai.. Jawabnya dengan santai.. ‪#‎Aku‬ sadar.. Setiap anak yg di lahirkan ke dunia ini adalah pikiran tuhan yang baru, kemungkinan yang senan tiasa segar dan bersinar..

-kenangan terindah-

~Masa yg berlalu cepat meninggalkan kenangan yg indah… Hal yg mungkin terlupa tapi merupakan goresan sejarah yg terprasastikan di dalam sanubari… Ada yg mendapatkan cinta,jiwa dan masa depan… Waktu yg membawa kita semakin tua memberi makna tersendiri… Dalam setiap ruh yg pernah di rasukinya… Kita hanya berbeda cara tapi satu cerita… Cerita akan tawa,sedih,serta saat_saat bersama… Kulit yg kriput hanya bentuk jasad belaka… Tapi kenangan kita akan selalu muda… ~Letter D’subinar colection, 2004-2005